Jumat, 03 April 2009

2 komentar:

  1. Jakarta Sebagian orang menganggap sudah jadi kodrat seorang perempuan untuk lebih cerewet dari laki-laki. Tapi sebenarnya ada penjelasan mengapa perempuan cerewet. Mau tahu?

    Seorang ilmuwan dari MTE studios, Dubai menjelaskan bahwa ada 28 perbedaan struktural di dalam otak perempuan dan laki-laki. Perbedaan itu tidak hanya membedakan jenis kelamin, tetapi juga berpengaruh terhadap kisah hidup laki-laki dan perempuan.

    Menurut penelitian tersebut, seperti yang detikhot kutip dari Health24, Jumat (3/3/2009), ada perbedaan signifikan dalam gaya bicara laki-laki dengan perempuan. Laki-laki memakai sekitar 2.000 sampai 4.000 kata, 1.000 sampai 2.000 suara dan 2.000 sampai 3.000 bahasa tubuh, Jika dijumlahkan, maka ada sekitar 9.000 kata, suara dan bahasa tubuh yang digunakan.

    Sedangkan perempuan menggunakan 8.000 sampai 10.000 bahasa tubuh, 6.000 sampai 8.000 kata dan 2.000 sampai 3.000 suara untuk berkomunikasi setiap hari. Jika dijumlahkan maka kira-kira ada sekitar 21.000 kata, suara dan bahasa tubuh yang digunakan perempuan setiap hari. Wow!

    Laki-laki dan perempuan mempunyai alasan yang berbeda untuk berbicara. Perempuan berbicara untuk mengurangi stress dan menjalin hubungan dengan perempuan lain. Mereka mendengarkan apa yang orang lain katakan dan mereka bisa bicara dan mendengar pada saat yang bersamaan. Laki-laki bicara untuk mengubah fakta dan menunggu giliran untuk berbicara.

    Bagian callosum dalam otak perempuan lebih besar daripada milik laki-laki. Inilah yang memungkinkan perempuan untuk melakukan banyak tugas sekaligus. Otak perempuan juga lebih cepat sembuh dari cidera otak, hal ini dikarenakan bagian dari otak yang tidak terluka dapat mengambil alih tugas dari bagian yang cidera.

    Laki-laki mempunyai bakat dalam menggambarkan sebuah tempat, meskipun begitu 10 persen dari perempuan mempunyai bakat yang sama, namun biasanya mereka adalah lesbian.

    BalasHapus
  2. 6 Dasar Untuk Menjadi Seorang Aktor Besar (I)





    Pada tahun 1933, di Amerika Serikat telah terbit sebuah buku yang bernama “Acting: The First Six Lessons” yang dikarang oleh Richard Boleslavsky. Richard Boleslavsky pernah menjadi anggota The Moscow Art Theatre . Ketika datang ke Amerika ia diangkat menjadi direktur dari The Amerikan Laboratory Theatre. Ia memegang jabatan ini selama enam tahun seraya menjadi sutradara dari beberapa sandiwara di Broadway. Ia tinggal di Hollywood .

    Selanjutnya dalam bukunya itu ia membagi ajarannya dalam enam bab, ialah: Konsentrasi, Ingatan Emosi, Laku Dramatis, Pembangunan Watak, Obserwasi dan Irama.



    Ajaran Pertama: Konsentrasi

    Seorang aktor ialah seorang yang mengorbankan diri. Ia harus menghilangkan dirinya untuk menjadi orang lain, ialah perannya – misalnya menjadi Hamlet. Untuk melupakan dirinya dan menjadi orang lain itu pertama-tama ia harus mempunyai konsentrasi yang kuat. Dalam konsentrasinya ia harus bisa menundukkan panca-inderanya, urat-urat dan seluruh anggota badannya untuk berubah menjadi panca-indera, urat-urat, dan anggota badan Hamlet.

    Bahkan suara harus bisa diperintahkan untuk berubah. Maka harus selalu dijaga agar panca-indera, suara serta segenap urat-urat tubuhnya selalu terjaga dan terlatih. Untuk itu ia harus berlatih anggar, senam, tari, boksen, menyanyi, deklamasi, diksi, membaca dengan suara keras, pantomim dan lain-lain.

    Selanjutnya dalam konsentrasi ia harus selalu memerintahkan pikiran dan intelegesinya sendiri, sehingga dapat mengubahnya untuk peran apa saja yang sedang ia pegang. Artinya: kalau perlu ia harus bisa menjadi bodoh seperti seorang kuli menjadi kacau seperti orang gila, tetapi harus pula menjadi pintar seperti seorang sarjana dan bijaksana seperti seorang raja.

    Oleh karenanya, seorang aktor yang sejati dan bermutu tinggi harus punya inteligensi yang tinggi pula. Ia harus mendidik pikirannya dengan filsafat, pendidikan kebudayaan ilmu jiwa, ilmu bangsa-bangsa, politik, sejarah, bahasa, kesusastraan, dan segala macam cabang ilmu lainnya, termasuk pula pengetahuan tentang etika dan adat istiadat berbagai bangsa. Yang paling berat ialah bahwa dalam konsentrasi seorang aktor harus bisa menundukkan dan memerintahkan sukmanya sendiri.

    Seorang aktor harus bisa mengubah sukmanya menjadi sukma peran apa saja yang sedang dipegangnya. Apabila ia bermain sebagai raja, tidaklah cukup apabila ia berjalan gagah , duduk tegak di singgasana, dan kepalanya memakai mahkota, karena itu hanyalah permainan lahir belaka. Tetapi ia harus mencurahkan permainan dalam, permainan yang lahir dari sukma.ini berarti ia harus bisa mengubah sukmanya menjadi sukma raja.Dan apabila ia memerankan peran Hamlet sukmanya harus berubah menjadi sukma Hamlet.

    Sebab itu ia harus mempunyai keahlian menumbuhkan kepercayaan pada pengkhayalan. Maka ia harus melatih penumbuhan pengkhayalan itu sendiri, penumbuhan naivitas, penumbuhan keberanian, penumbuhan kekuatan kemauan, penumbuhan pada humor dan tragedy.Untuk seorang aktor harus mempunyai pribadi yang kuat supaya sukmanya sendiri tidak menjadi rusak karena latihan-latihannya.



    IBSC ACTING PROGRAM

    Jln. Pengadengan Timur Raya no 4 Jakarta 12770

    T/F : 7983092/79184024, www.ibsctvpresenter .com, info@ibsctvpresente r.com

    (disadur dari berbagai sumber)

    BalasHapus